LANGITJAMBI, BUNGO_ Ketertarikan Alya Adhani terhadap seni anyaman telah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku SMP pada tahun 2019. Saat itu, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti magang anyaman di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui program dari Disperindag Bungo. Namun, kecintaannya pada seni tradisional ini sejatinya sudah muncul sejak SD dan SMP, di mana ia kerap mengikuti berbagai lomba menganyam.
“Yang pertama memang jiwa saya di bidang seni dan selalu ingin berkarya. Membuat anyaman ini menurut saya hal yang menarik, apalagi ketika bisa memecahkan pola-pola terbaru yang cukup sulit. Jadinya saya selalu ingin menciptakan produk-produk model terbaru,” ungkap Alya kepada Langit Jambi, Rabu (26/11/2025).
Memasuki jenjang SMK, Alya semakin aktif mengikuti pelatihan, baik di tingkat daerah maupun kota. Baginya, seni anyaman bukan hanya kegiatan kreatif, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya.
“Yang paling penting, saya ingin meneruskan kelestarian budaya. Seni anyaman di zaman sekarang, khususnya di daerah saya, sudah sangat langka. Ini sangat perlu dipertahankan dan dikembangkan,” jelas Alya yang biasa di panggil sehari hari
Saat ini, Alya yang tengah menempuh pendidikan kuliah hanya mampu memproduksi sekitar lima buah anyaman berukuran sedang per hari. Meski begitu, ia tetap berkomitmen untuk terus berkarya di tengah keterbatasan waktu.
Alya berasal dari Pasar Lubuk Landai, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Jambi. Perempuan kelahiran 24 Januari 2005 ini menguasai berbagai jenis bahan anyaman seperti rumbai, pandan, rotan, purun, bambu, hingga resam. Namun untuk sementara, ia memilih fokus pada satu bahan, yaitu resam.***
Penulis: Gusti Dian Saputra












